Sabtu, 16 November 2013

Drag Bike 2013 Pertamina Jelang Senayan; Bebek 4T 130 cc, Kompor Jupie OTD 7,9 detik!


Sekali lagi ditegaskan bahwa Final Pertamina Enduro Drag Bike (PEDB) di lintasan 201 meter, Senayan, Jakarta Selatan (16-17/11) ini bukan sekadar hadiah mobil Daihatsu Ayla.  Setiap kelas yang dilombakan menjanjikan pertarungan sampai habis, bis, bis. Bahkan gensi tim dipertaruhkan, kalau kalah ya tenang saja, balas tahun depan lagi.

Seperti di Bebek 4-Tak Tune-up 130 cc, Imam Ceper dari tim JFK Vincet ‘s Marcellio Racing Team (Jakarta) di posisi puncak klasemen. Ceper yang memang ceper itu pakai Honda Karisma spek ‘Thailand’. Dia bakal mendapat tantangan dari new comer yang  Minggu lalu bikin sensasi di Slawi, Jateng. 

Itu dia, Jupie OTD Jogja yang mencatat 7,9 detik.  “Hanya ingin  pembuktian, riset baru ini layak masuk papan atas belum? Kan semua ‘raja’ bakal beradu di Senayan,”kalem Potter dengan senyum khas wong Jogja. Wah seru nih! Apalagi joki papan atas seperti Eko Sulistyo, Muslih Wuri, Richo Boncel berhasil Potter gandeng. 


Dengan komposisi rasio gigi satu berat, namun gigi dua dibikin ringan, katanya membuat Jupie ini stabil. Maksudnya sejak start sampai finish kecepatannnya rata. Itu tujuan penggunaan komposisi rasio tersebut. Jangan lupa juga, pengapiannya disuntik CDI  Rextor Pro Drag. “Trek Senayan harus ditangani khusus. Di area startnya agak licin,” bilang Eko yang tetap Chodox yang akan memacu motor ini seolah sudah hapal tipikal Senayan.   

“Tak sekedar siapa yang menjadi pengumpul point terbanyak, tapi mampukah catatan waktu di kelas itu lebih tajam lagi. Catatan waktu terbaik kami saat ini memang masih 8.131 detik, saat event Trendy di Kebumen lalu,sebut Vincent bercerita Honda andalannya di kelas ini yang memakai karbu PWK 28, pengapian YZ dan kompoisis rasio blablabla.
 
Makin seru dengan hadirnya  Jupie QS (Quick Shifter) korekan Mosik Prionggo, “Rencana yang betot Dwi Batank, dialah penjamin bahwa teknologi QS tetap punya kelebihan dengan power mesin yang seimbang,” kata Onggo yang kerap bermain ‘gerilya’ di seputaran Jateng dan DIY. 
Iya, kadang hadir, kadang hilang, tiba-tiba kasih kabar akan hadir di Senayan.Hahaha..oke sampai di lintasan sesungguhnya. Eit, terus update kabar Final PEDB hanya di portal ini.

Drag Bike 2013 Final Pertamina Senayan (Jelang); Chodox Janji Pertajam Rekor FFA 6.776 Detik


Sangat sulit mematahkan catatan 6,776 detik di FFA drag bike. Jangankan dipecahkan, didekati saja sepanjang tahun ini nggak pernah kalee. Usai catatan itu dibikin, waktu FFA hanya bermain 6.9 sekian-sekian. Termasuk oleh pembuatnya Eko Chodox yang menunggang KTM SX250 milik Abirawa GM, motor yang sama menuliskan 6.776 detik.
 
Chodox mencetak rekor itu di lintasan Senayan, Jakarta, Selatan, Maret 2013. Tepatnya di seri pertama Pertamina Enduro Drag Bike Day Battle Championship 2013. Minggu ini atau 16 – 17 November, event yang sama kembali ke Senayan dalam seri pamungkasnya. Pertanyannya, dengan kondisi aspal, cuaca, dan suasana hampir sama, apakah Chodox bisa mempertajam?

"Jika aspalnya seperti  Maret dan cuaca terik, saya yakin bisa melewatinya," kata Chodox yang asli Semarang, Jawa Tengah. Apalagi timnya sedang mempersiapkan KTM tersebut di seri penutup. Suku cadang yang berhubungan dengan power kembali disegarkan oleh tim yang bermarkas di Pondok Gede, Jakarta Timur itu.

Misalnya ganti piston set, kruk-as dibalans ulang, lidah katup bulu diganti baru dan sebagainya. Soal korek-mengorek kayaknya nggak, karena KTM bermesin 2-tak ini sudah special engine. Paling hanya memainkan ketebalan paking pada blok silinder dan kepala silinder yang  berpengaruh pada karakter tarikannya.

Tak kalah penting, sasis KTM yang tahun ini telah dua kali patah, kembali dirapikan. Bagian rangka bawah dan sasis belakang, sekalian dibikin lebih kaku. "Mesin segar dan sasis yang lebih kokoh, momentum buka gasnya memang lebih meyakinkan. Feeling bisa tepat. Intinya akan berusaha ebih cepat. Sekali lagi, asal cuaca mendukung," tutup Chodox yang masih bertapa di kediamannya.

Drag Bike 2013 Pertamina Senayan (Jelang); Jupie Pele Memimpin Puluhan FU di Bebek 200


Boleh saja Suzuki FU mendominasi jumlah peserta Bebek Tune-Up  200 cc (Kelas 2). Dari total motor pernah ikut kelas ini, ada sekitar 25 FU dan hanya 3 unit Jupiter Z. Dengan unggulnya teknologi dasar FU lewat DOHC-nya, semestinya FU yang berpeluang memimpin poin.

Tapi masuk ke seri final Pertamina Enduro Drag Bike di Senayan, Jakarta Selatan, 16 – 17 November 2013 ini, justru Jupiter Z yang memimpin 9 poin. Pokoknya di bawahnya puluhan FU. Si pemimpin poin ini adalah Jupiter Z Pele yang dijoki Hendra Kecil. Seperti dalam tulisan modifikasi Jupie Pele, untuk mensetarakan dengan  DOHC dari FU, Pele seperti merancang ulang mesin Jupie. Kira-kira namanya saja Jupiter, tapi mesinnya sudah hasil karya sendiri, hehe.

Arief Sigit Wibowo alias Pele dari Pell’s Racing yang pasti pengorek Jupiter Z, sejak awal yakin bisa melawan. Ia mengakali Jupiter Z yang punya mesin ‘tidur’ dan masih SOHC dengan versi otaknya untuk  melawan mesin DOHC dengan mesin tegaknya. Peluagnya ada pada mesin yang bisa dikembangkan sampai 200 cc. Saya bermain konstruksi klep dan kem pada head-nya. Itu namanya riset,” kata Pele.

Yang membuat motor ini ikut melejit - paling tidak memimpin klasemen sampai ke Senayan - berkat kerjasama yang apik dengan jokii. Pele mengerti maunya Hendra yang kecil itu, si Kecil juga tahu racikan Pele. “Komunikasi yang penting, kurang lebih motor bisa diketahui,” jelas Hendra yang diuntit Tony Chupank yang menunggang Satria FU dari tim Lembu Speed Chonk’s.

Hendra mengumpul 99 poin dan  Chupank 79 poin. Posisi ke-3 sudah tak mungkin melampui keduanya yang diduduki Dwi Batank from Abakura Ditrajaya yang ngetop dengan FU-Solo. Dengan komposisi itu, pertarungan di FFA-nya bebek ini, pasti akan panas. “Seri penutup motor harus dipastikan sehat dan aman. Di Senayan lalu, saya yang juara pertama,” tegas Chupank seperti memberi ultimatum pada Hendra Kecil.

Final Pertamina Drag Bike 2013 Senayan: Sabtu Pagi Telah Lewat 400 Starter

Dari meja pendaftaran tercatat angka 400 starter sudah terlewati, "Jumlahnya ini masih terus bertambah sampai dengan penutupan pendaftaran tengah hari nanti, Sabtu 16 November 2013," buka Hertanti Arnita selaku petugas pendaftaran dario lokasi.
 
Ya dari Area Parkir Timur Senayan, Jakarta Selatan yang jadi tempat putaran seri ke-6 atau seri penutup Pertamina Enduro Drag Bike 201 Meter Championship 2013 sudah mulai dipenuhi tim. Tim yang nongol canggih semua, juga membawa motor yang banter tenan. Mereka mulai menempati tenda paddock yang megah khas Trendy Promomandira yang megah. Inilah event drag bike bermutu, walau bukan kejurnas, loh.

Terlihat tenda PME Abirawa GM yang diisi kuda besi karapan yang jaminan pencetak catatan wuzzzz, di setiap kelasnya yang diparkir rapi.  "KTM 250SX untuk Free For All sudah siap tempur," ungkap salah satu kru tim seperti yakin akan menggemparkan ulang Senayan.
Tak jauh dari situ tenda kuning Tomo Speed Shop sedang didirikan. Utomo selaku pemimpiin tim langsung tunjuk-tunjuk mengkomando anak buahnya. "Yamaha Mio untuk Matic Tune Up s/d 200 Cc dalam kondisi prima, begitupun jokinya," ujar  Tomo pada motor yang sedang memimpin poin tersebut.

Sementara Kawasaki Ninja yang turun di Sport 2-Tak Rangka Standard s/d 150 Cc belum banyak terlihat di paddock. Kelas ini unggul 6 starter dari Matic Tune Up s/d 200 Cc dalam hal jumlah starter sampai dengan seri ke 5 lalu. Di Senayan ini akan ditentukan kelas mana dengan starter terbanyak yang juara umumnya akan memboyong hadiah Daihatsu Ayla. "Hari ini kelas-kelas dengan starter terbanyak akan dilakukan penyisihanta,” jelas Anas Riswanto selaku pimpinan lomba.

ejak Jumat kawasan ini terus diguyur hujan. Pagi ini lintasan masih basah dan matahari pun seperti kurang terik. "Semoga hari ini cuacanya mendukung sampai dengan akhir acara besok," pungkas Helmy Sungkar selaku pimpinan dari Trendypromo, penghajat event.
 Amin, supaya banjir peserta, penonton dan banjir rekor.


Drag Bike 2013 Senayan; Starter Matic 200 Terbanyak, Kelas Dapat Hadiah Mobil


Meski belum ditutup, data dari bagian pendaftaran  Matic Tune-Up s/d 200 cc tercatat 91 starter, sementara Sport 2-Tak Rangka Standard s/d 150 cc ‘hanya’64 starter. Total starter keseluruhan seri Matic 200 cc menjadi 341 dan 308 untuk Sport Rangka Standard.Meskipun masih ada kemungkinan bertambah agak sulit mengejar, karena sudah berselih 33 starter.

Berarti hadiah mobil jatuh pada kelas Matic 200 dan joki yang mendapatkannya ditentukan di seri ke-6 Pertamina Enduro Drag Bike 2013  (PEDB) di Sirkuit Area Parkir Timur Senayan, Jakarta Pusat yang saat ini sedang siap-siap. Ya, sekarang atau 16 November 2013 yang pendaftarannya masih berjalan dan besok atau Minggu 17 November akan berlangsung babak-babak final.

Seperti Maret lalu di seri pertama PEDB  ditempat yang sama,   Matic 200 memang unggul di soal banyak-banyakan starter. Lagian, DKI dikenal lumbung kelas matic. Kelas ini sempat tertinggal dari jumlah sterter saat PEDB menyeberang ke Jawa Tengan dan Jawa Timur. Bahkan sampai Cianjur, Jabar, Matic 200 sudah tertinggal enam peserta dari Sport Rangka Standar 150 cc dan baru terlampui di Senayan ini.

Poin klasemen pembalap di Matic 200 dipimpin Saiful Cibef dari Tomo Speed Shop dengan 77 poin.  “Saya mendaftarkan Cibef dua nomor di kelas ini, jadi dia punya kesempatan kedua bilamana terjadi masalah. Untuk penyisihan, yang penting masuk final dulu, baru atur strategi setelah melihat hasil penyisihan nanti,” jelas Tomo selaku pemilik TSS yang bermarkas di Jakarta.

Posisi Cibef jelas belum aman, di bawahnya ada Hendra Kecil dari  Pell’s Racing dengan 61 poin dan Tokichi Kebo dengan 57 poin. Ketiganya masih berpeluang  tapi kans besarnya ada pada Cibef. “Saya akan main aman, apa pun masih bisa terjadi,” ungkap Hendra. 

Sampai dengan berita ini diturunkan total starter sudah bertambah menjadi 538 starter, namun hujan sudah mulai turun di kawasan ini, sementara sebentar lagi sesi penyisihan akan dimulai.


Pertamina Drag Bike 2013 Senayan; Penyisihan 7,627 Detik, Time Tercepat, Trek Basah

Dari tujuh kelas penyisihan pada Sabtu, 16 November di Parkir Timur Senayan, Jakarta tidak ada catatan waktu yang hebohkan. Semua tak berkutik ketika trek dalam kondisi basah, ya akibat hujan. Tercepat ‘hanya’ 7,627 detik oleh Imam Ceper yang menunggang Yamaha 125Z dari tim Yong Motor Nano-Nano Racing.

Ceper mencetaknya di penyisihan Bebek 2-Tak Tune Up s/d 130 cc di seri 6 Pertamina Enduro Drag Bike Championship 2013.Motor berkelirnya mirip permen Nano-Nano ini pada putaran pertama Maret silam  bikin heboh dengan 7,270 detik pada sesi penyisihan. “Saat itu kering, sekarang treknya lembab,  bekas hujan,” ungkap Yong selaku juru korek motor tersebut yang terpaksa melakukan penurunan tekanan angin IRC Eat My Dust. Padahal, mengempeskan ban juga bikin berat laju.

Menghadapi lintasan yang basah, Yong sudah punya bebera pilihan agar motor masih tetap mencetak hasil maksimal. Itu juga akan digunakan bila final Minggu, 17 November lintasan basah. Pilihannya adalah memberatkan final gir, untuk mengurangi spin saat start. Juga pilot/main jet dinaikkan agar atau dibikin  basah agar tak terlalu liar dan timming pengapian dibuat rendah.

Di tangan Ceper, penyesuaian tadi membuatnya bisa tetap tercepat, walau tidak kilat-kilat amat. Toh, juga semua catatan peserta melambat, “jujur saja cuacanya sempat bikin bingung, hujan lalu berhenti kemudian hujan lagi,” kata Ceper yang yakin catatan waktu dikisaran 7,2 detik akan bisa dicapai jika kondisi trek kering. AN

Selasa, 12 November 2013

Drag Bike 2013 Slawi Tegal; Matik 200 Ccs Bracket 8 Detik, Ninja Rangka Standar Tetap ‘Edan’!


Tipe motor memang bebas, sport, bebek atau matik. Tapi jangan asal juga, kisaran best time-nya masih aman dalam 8 detik. Lebih sikit misalnya 7,9 detik sih bisa. Tapi kalau nggak sampai 8 detik jangan ikut. Selebihnya, tinggal berdoa semoga catatan waktu pas 8 detik atau sekitarnya. Itu yang dimaksud bracket time 8 detik.


Kelas ini menarik lantaran bikin penasaran, bisa nggak bikin time 8 detik persis. Makanya butuh ketepatan dan kecerdikan joki,” buka Bayu Ucil (Purwodadi) dan Yuns Bonce (Solo). Keduanya hadir  di Slawi Drag Bike Open Championship (SDBOC) di sirkuit Jalan Gajah Mada, Alun-Alun Slawi, Tegal, Jateng (10/11).

Tak mudah juga bisa podium di kelas ini. Beberapa kali mesti mengakui joki-joki pemula yang biasa memainkan feeling di 8 detik,” nilai Eko Sulistyo, joki kawakan. Makanya, si reporter  mewancarai Bayu dan Ucil, “Delapan kali mengikut kelas ini, keduanya enam kali podium pertama. Umumnya didapat dengan matik karena lebih mudah alias tak mikir pindah gigi,” bangga Bayu sambil tunjuk matik 200 cc yang ada di foto itu dari paddock di event Slawi.  

Matik mereka memang dirancang bisa berlari 7,8-7,9 detik, speknya tak beda jauh dengan matik 200 cc untuk open. Paling roller yang kombinasi 8 dan 9 gram, tapi ini motor di 175 meter powernya disetting sudah habis. Kelihatannya menjelang finish  gas sudah di tutup oleh mereka tuh. "Sekitar 25 meter sebelum finish, rpm telah ditutup," kata Ucil.

Selain kelas braket, Ninja rangka standar juga tetap dipastikan ‘edan’. Dari pantauan langsung, Ninja standart  7,2 detik hadir,Kita lihat nanti siapa yang terbaik,”kata Eko yang  kali ini gas Ninja standar OTD Jogja. Wah, yang itu juga langgananan juara bro. Mantap! Hingga berita ini diketik masih berlangsung kelas-kelas lokal dan bracket, cuaca mendung 

Drag Bike 2013 Slawi; Kejutan Bebek Tune-Up 130 cc 7,959 Detik Oleh Eko Chodox, CDI Rextor!

Bebek tune-up sempat mengiasi halaman portal kala itu. Pemicunya adalah Jupie quick shifter korekan Mosik Prionggo alias Onggo dari Omah Mburi Racing Team. Best time kala itu tembus 8,0 detik. Tapi di  Slawi Drag Bike Open Championship (SDBOC) di sirkuit Jalan Gajah Mada, Alun-Alun Slawi, Tegal, Jateng (10/11) catatan itu telah dilewati.
 
Tak mudah memang. ”Selain riset Ninja tune up dan standar, diam-diam juga bikin bebek tune up 130. Ini dipersiapkan khusus buat final Pertamina Enduro Drag Bike nanti,”sebut Nugroho alias Potter juru korek dari OTD Racing Team, Jogja. Hasilnya? 3 podium dikuasai sekaligus juga catatan waktu yang mampu dipertajam dengan 7,959 detik lewat Eko Sulistyo #157 alias Eko Chodox asal Semarang.

Joki sekelas doi memang spesial, tapi korekan Potter ini bukan berarti tak spesial. Hitungan dynotest, Jupie kelir kuning tembus 26,7 dk. Menurut Potter, hasil  itu untuk bebek 4 tak volume silinder 130 cc kategori besar. Maksudnya karya korekannya telah berhasil dan tinggal tergantung joki.
CDI Rextor Pro Drag

Karbu PWK 38


Bicara spek mesinnya dipompa karbu PWK 28 yang dianggap mempu melayani durasi kem 280o. Kombinasi keduanya, ini motor bisa melejit lebih awal saat start. Apalagi dibawa si Mas Eko yang ahli menjinakkan yang liar-liar. Betapa tidak liar dengan kompresi yang katanya 14.8:1. Itu mah sangat tinggi. Sayang mekaniknya ogah memberi tahu buret untuk menghitung kompresi sebenarnya. Yang jelas, semua itu masih diatur oleh pengapian khusus drag dari Rextor yang tipenya Pro Drag.

Drag Bike 2013 Cimahi Bandung; Belajar Start Ala Kodok

Trik start baru tapi lama muncul di lintasan Brigif, Bandung, Jawa Barat (Jabar). Beberapa peserta start melompat, ya mirip kodok saat start. Tapi bukan Chodox yang punya Eko, dragster top dari Semarang, Jawa Tengah. Tetapi trik sebenarnya sudah ada di Eko sejak lama, makanya disebut Eko Chodox.
 
Layaknya kodok benaran, sensor start dilompati dengan harapan waktu tempuh bisa dipangkas, karena motor sudah melaju sebelum lampu hijau menyala. Namanya coba-coba ada yang berhasil namun kebanyakan gagal di event Kejurda GM Drag Bike Jabar pada 9-10 November 2013 ini.  Yang berhasil pun, catatannya tidak lebih cepat. "Saya pernah coba start seperti kodok, dan sulit bisa melakukan start mulus bila tak biasa," buka Saiful Cibef yang di Brigif memacu motor dari tim SHRT. 

Menurut Cibef, ketika pembalap berhasil melompati sensor maka langkah selanjutnya mengkoreksi putaran mesin. Tujuannya laju motor bisa dinetralkan. Maklum saat meloncat  putaran mesin berlebihan, efek negatifnya motor menjadi liar. "Jadi percuma, meskipun motor keluar start lebih cepat, dengan ditutupnya throttle maka waktu akan terbuang,” katanya.  

“Lebih baik start normal aja," timpal Sabrina Sameh dari Anker Sport Hariot's Feat Keyspeed Lupromax IRC GM AHRS. Sameh vokal menyoal perilaku meniru kodok, menurutnya teknologi lampu start saat ini memiliki celah dimanfaatkan, namun dirinya tak mau, "Masih banyak cara lain lebih cepat, khawatirnya, ketika sistem sensor start diubah malah susah mngubah kebiasaan," ujar cewek ehem itu

 Rikky Onyes salah satu pembalap yang coba tiru kodok. Baginya selama tidak jump start ndak masalah dong. Sempat berhasil melompat, namun banyak gagalnya bro. Karena momen meloncat tidak akan sama setiap kali start, kadang mulus tanpa perlu tutup gas. Tapi kelihatannya lebih banyak ketiggian rpm sehingga repot koreksi laju motor. 

Itu namanya harus kebiasaan dan tahu tekniknya cermat seperti Eko Chodox. Mendingan belajar sendiri di lampu merah, hehe. "Maka saya minta pembalap tidak usah coba-coba jadi kodok. Start normal saja, biar terlihat apa yang kurang dari motor dan skill pembalap. Itu lebih fair," kata Popo, mekanik dari Wahana Baru Motor Bandung.  

Anas Riswanto selaku pimpinan lomba dari balapdihajat Trendy Sport Club (TSC) menganggap hal tersebut sah-sah saja, "Selama tidak tertangkap sensor jump start, catatan waktunya tetap keluar dan dianggap sah. Maka kedepannya harus di rubah lagi aturannya, misal dengan cara menambah tinggi sensor jump start ataupun cara lainnya," katanya.





  

Drag Bike 2013 Slawi; RXZ Pinky Majestic 7,2 detik, Bracket 8 Detik Ninja Standar!

Sebelum cerita Slawi sebagai peringatan, eh, pengingat saja, minggu ini atau 17 November 2013 ada drag bike paling top di Indonesia. Itu dia event Pertamina Drag Bike di Senayan, Jaksel. Nah sekarang lanjut ke Slawi, Tegal, Jateng yang berlangsung Ahad, 10 November kemarin.
 
Ingat kan Yamaha RX-Z berkelir pink alias RX-Z Pinky pacuan Dwi Batank (Semarang)? Itu RX-Z  milik tim Majestic asal Palembang, Sumsel yang dikenal awalnya lantaran bisa podium sport 2-Tak Tune-up 140 cc dan sport 2-Tak Tune-Up 150 cc  saat event di Demak beberapa waktu lalu. “Best time-nya masih konstan di 7,4 detik, tapi dua event terakhir termasuk di Slawi ini lebih tajam jadi 7,2 detik. Perubahan hanya dial pengapian dan senter ulang kruk-as yang menbuat final gir juga diset-up lagi,” sebut Batank, joki sekaligus juru korek motor ini. Final gir tadi awalnya 13/40 jadi 13/37. Wau, itu sih jauh lebih ringan. Artinya dengan dial ulang pengapian dan perbaiki rotasi kruk-as epeknya banyak.   

Di  event Slawi Drag Bike Open Championship (SDBOC) 2013 di sirkuit Jln. Gajah Mada, Alun-Alun Slawi,  RX-Z ini mengamuk lagi. Coba lihat sendiri, Eko Sulistyo di podium kedua hanya cetak 7.601 detik. Artinya, joki setara, motor keduanya  jelas beda. “Batank yang naik dia juga yang setting, jadi tahu  maunya motor. Mudah-mudahan di final Pertamina Enduro Drag Bike bisa lebih tajam lagi,” harap Ferry bos Majestic Speed Shop Palembang yang  rajin memantau drag bike Jawa lewat portal ini. Hahahaa…

Tak kalah menarik cerita di bracket 8 detik. Bayu Ucil (Solo)  dan Rully PM  (Kebumen) yang rajin podium di kelas ini pakai Mio  milik HA Feat HK gagal podium pertama. “Di wilayah Jabar belum seramai di jateng, makanya datang ke sini buat tarung barket 8 detik. Alhamdulillah podium pertama,” senang Madyaman asal Indramayu, Jabar dari tim An-Nur Balap
Bahkan dengan percaya diri Madya menyebut inilah Ninja spesialis braket 8 detik, ”Spek persis Ninja Rrangka Standar, tetap bertahan di stroke standar. Itu lantaran hasil setting catatan waktunya 8,0 bersih. Sejak start sampai finish gak perlu diatur. Pokoknya gas terus,” sebut doi selaku joki plus mekanik. 

Dibalik cerita itu juga, masih ada peserta yang belum ‘in’ soal aturan kelas ini, ”Kok ada istilah penjumlah catatan waktu lalu dibagi dua segala, bukannya yang pertama tadi penyisihan yang kedua final,” ujar Fajar Kojex KRW dari tim Kiki Race Work Slawi.

Wah, repot juga kolo balap belum tahu tata cara balap, “Bracket ini awalnya diadopsi dari drag mobil. Pakai heat 1 dan heat 2. Menentukan pemenangnya  diambil catatan waktu rata-rata, yakni heat 1 dan 2 dijumlah lalu dibagi 2,” jelas Drs. Lilik Kusnandar selaku pimpinan lomba pada event garapan Gadhuro Sport Club ini. (GSC) sambil menjelaskan ada istilah break out yang artinya peserta mendapat catatan waktu dari syarat minimal yakni 8,00 detik.


Final Drag Bike Pertamina 2013 Senayan (Jelang); Tidak Semata Hadiah Mobil Daihatsu Ayla


Ada dua kelas yang bersaing ketat di Pertamina Enduro Drag Bike (PEDB)  untuk dapat hadiah mobil. Yakni Sport Rangka Standar 150 cc  (SRS) dan Matic Tune-Up 200 cc. Dua kelas ini yang pembalapnya berpeluang dapat hadiah roda empat di seri penutup PEDB di Senayan, Jakarta Selatan 16 – 17 November 2013. Jangan lewatkan, minggu ini.
 
SRS sebenarnya konsisten mendulang peserta di semua daerah. Apalagi sampai di Jakarta asal mula kelas ini, peserta pasti akan berebut mendaftar. "Sampai sekarang SRS memimpin 6 peserta dari Matic 200. Yang dapat Daihatsu Ayla itu, pembalap yang punya poin tertinggi, tapi jumlah peserta ikut memengaruhi," kata Helmy Sungkar, pimpinan Trendypromo Mandira, promotor PEDB yang sudah menyediakan mobil hadiah, tuh ada di garasi.

Kian rame, Matic 200 juga tak kalah peminat bila samapai di DKI. Maklum, kelas ini juga tumbuhnya di Jakarta dan sekitarnya. Bisa saja di Senayan, peserta melampui SRS. Lihat saja, pemimpin klasemen di Matic 200 juga tim dari Jakarta yang biangnya matik alias Tomo Speed Shop dengan joki Saiful Cibef. Cibeb diuntit Hendra Kecil.   

Sayang, matik kurang berkambang di Jateng dan Jatim. Makanya, saat PEDB main di dua daerah itu, kelas ini terlampui oleh SRS. Berbeda dengan SRS yang langsung menyebar ke semua daerah. “Namanya juga Sport Standar, peminatnya banyak. Belum terlalu geber-geber dana,”  kata Taufik Omponk pembalap sekaligus mekanik   K2 Y Radin KA OP27 pemimpin klasemen SRS dengan 77 poin. "Saya juga masih punya kesempatan di SRS,” timpal Dwi Batank yang hanya selisih 3 poin dari Omponk.


Drag Bike 2013 Pertamina Jelang Senayan; 5 Joki Berpeluang Rebut Mobil



Bagi Tomo bos Tomo Speed Shop (TSS) Jakarta menantikan grand final atau seri-6 Pertamina Enduro Drag Bike (PEDB) di Senayan, Jakarta Selatan, pada (10-11/11) ini, melebihi menunggu race final MotoGP di Valencia (3/11) lalu. Sebab yang paling tegang di MotoGP pelakunya antara tim dan pembalap Yamaha-Honda, Tomo mah hanya penonton.



Di Drag Bike Senayan nanti, Tomo adalah pelakunya langsung. Yang bikin ia debar-debar bukan soal posisi jokinya Saiful Cibef yang memimpin poin di Matic 200 cc. Kelas ini yang tahun lalu mendulang mobil lantaran syarat utamanya adalah diikuti peserta terbanyak dari semua kelas dihajat di PEDB. Tapi tahun ini, kelas itu mendapat saingan keras dari Sport Rangka Standar (SRS) 150 dalam pengumpulan peserta, syarat untuk dapat hadiah mobil.

Dua kelas ini yang mana memenuhi kuota akan  ditentukan dari hasil perndaftaran di Senayan. Nah itu yang bikin debar Tomo. Apalagi, SRS saat ini sedang mimimpin 6 peserta. “Selain masih menunggu kelas mana yang dapat, juga menunggu poin pembalap yang sedang bersaing,” jelas Tomo dari balik ketikan BBM-nya.

Dari gabungan dua kelas ini ada lima pembalap yang sedang berharap dapat mobil. Hendra Kecil, joki dari Semarang, Jateng yang didua kelas tersebut berpeluang. Memang peluang terbesarnya berada di Matic 200. Ia kedua di klasemen atau tertinggal 16 angka dari Cibef yang memperkuat TSS. Cibef 77 poin dan Hendra menguntit 61 poin. Membayangi keduanya adalah Adi S Tuyu


Hendra di SRS 150 memang berada di urutan ke-3 dengan poin 50, jauh dengan Dwi Batank (74 poin) dan Taupik   Ompok yang 74 poin. Toh, “Apa pun bisa terjadi selagi balapan belum selesai. Kan begitu yang selalu dikatakan Jorge Lorenzo. Saya juga begitu,” tegas Hendra soal kelas SRS dan matic 200, lebih lengkap soal poin silakan lihat klasemen di bawah.

Jumlah joki berpeluang tergantung jumlah pendaftar di kelas ini. Bila SRS 150 ternyata yang lebih banyak peserta, tiga tiga pembalap yang punya kans. Sebaliknya juga begitu. “Yang menegangkan didua kelas ini, tetapi  rasanya semua kelas ketat. Poin di FFA, Bebek 200 dan sebagainya masih ditentukan di Senayan,” ‘bakar’ Helmy Sungkar bos Trendy Promo Mandira (TPM) promotor drag bike paling ngetop di Indonesia.