Rabu, 01 April 2015

DRAG BIKE 2015: CRYPTON CIBINONG INI NANTANG BEBEK 130cc 4T TU DARI JAWA

Crypton milik HRD M-Tech ini berharap ada Bebek 130 4T TU hadir di Drag Bike Delta Mas, Cikarang, 4 - 6 Aptil 2015. Sebab  Crypton mereka sudah siap diadu. Ketika ditest catatannya sudah 8 detik bersih. Waduh kencang tuh.
Asal saja jokinya siap. Jangan gemetaran menghadapi jago-jago Jawa. Sebab nama yang keluar sebagai jokinya belum setenar Eko Chodox, Hendra Kecil atau Alvan Chebonk. Ada dua joki andalan Crypton ini, yakni Iping Child dan Derry Child.  “Wah jangan pandang enteng pada kami, mas,” kata keduanya pada maniakmotor.com yang dari wajahnya berharap menang.
“Cerita motor sih sudah sangat siap melawan motor Jawa. Saya menggabungkan antara akselerasi, putaran menengah dan atas. Makanya kompresinya hanya dibikin 13.8:1,” cerita Hendro, mekanik HDR M-Tech pada Cryptonya yang katanya untuk membantu tarikan awal juga dikorek dari perbandingan rasio.
Karbu PWK28 sesuai aturan di kelas ini, kata Hendro sudah mumpuni untuk mengirim campuran udara dan bahan bakar ke ruang tungku. Itu karbu gampang disetel dan di drag Cibinong baru lalu sudah berlari 8 detik, tapi nggak diceritakan komanya. Ini karbu bekerjasama dengan klep in diameter 28 mm dan out 24 mm. Lantas dituntaskan knalpot R9. Nah knalpot inilah yang juga menambah power akslerasi.
Yang mau mendaftar silakan ke Karawang Automotive Club, Perum Adiarsa, Jl. Cisadane IX, No,104, Karawang, Jawa Barat. Boleh hubungi hp 081213814442 dan PIN BB 26341001. Jangan sampai terlambat, semakin terlambat akan kena denda sampeyan. Buat Bebek 130 4T TU dari Jawa ditunggu tuh sama Crypton. Rzk

DRAG BIKE 2015 JELANG DELTA MAS;BILL SPEED GEMPUR MATIC 200cc!!



Matic 200 Bill Speed


Cerita drag bike di Jabodetabek, sudah pastilah pertarungan kelas matik. Wilayah ini memang jadi tumbuhnya korek mengorek motor yang punya girboksnya otomatis. Macam Bill Speed Shop di kawasan Cinere, Jabar sudah siap-siap dengan semua kelas matik untuk menghadapi Drag Bike di Delta Mas Cikarang pada 4 -6 Maret 2015.
Bill Speed lebih fokus pada  Matic 200 yang memang kelas papan atasnya matik. Di kelas ini Bill Speed mengandalkan Mio yang berkoloborasi dengan mekanik yang namanya Popo  dari Wahana Baru. “Jadi soal angka-angka settingan belum boleh dikasih tahu sekerang,” kata Bambang atau yang dikenal dengan Boz Tablo perwakilan dari Bill Speed.
Tapi kalau korekannya Popo memang bisa membawa matik ke papan atas drag bike. Dibocorkan sikit menggunakan piston Hi-comp. Maksudnya piston yang bisa disetel pada kompresi tinggi. Lalu diberi bahan bakar avgas. Paling mentok perbandingan kompresinya 14:1 kan.
Lihat saja nanti sesumbar Tablo. Sebab akan muncul juga jagoan-jagoan matik lain di event tersebut. Maklum dekat dengan pedepokan VRG dan Tomo Speed yang selama ini menguasai matik Jakarta – Jawa Barat bahkan nasional.
Joki yang diandalkan Bill adalah Avon Kecil yang sebenarnya lebih tenar di balap malam alias bali atau balap liar. Mudah-mudahan si Avon bisa menyesuaikan dengan start menggunakan lampu ketimbang aba-aba seperti di bali,. “Makanya akan dibiasakan,” tambah Tablo.

DRAGBIKE 2015: KOMPRESI RENDAH VS SENSOR SATU TITIK,BERANI COBA?

 Yang terkini di drag bike riset kompresi rendah khusus Bebek 4T TU 130 cc. Mesin hanya mau minum pertamax plus yang kompresinya mentok 13:1. Selama ini kebanyakan pakai bensol yang kompresinya maen di atas 13-san, bahkan ada yang di atas  15:1. Wuuihh... katanya sih biar torsi bawahnya makin sadis guna menaklukkan sensor satu titik macam di drag Jatim.
"Torsi memang penting buat sensor satu titik, tapi bukan berarti yang pakai kompresi rendah nggak bisa kalahin tuh sensor. Bukktinya bikinan saya, bersaing kok,” bilang Ari Setiawan yang pasang kompresi 13:1 di Jupi 130 V-Reinz. Dia mampu 8,3 detik saat turun di kejurnas Dragbike Banyuwangi beberapa waktu lalu, sedang Jupi spek bensolnya yang kampiun sikat 8,2 detik. Artinya keduanya tipis-tipis. Bukan tidak mungkin ke depan bisa ngalahin yang pakai bensol dengan kompresi tingginya.

Pakai pertamax punya kelebihan putaran mesin bisa dikail lebih tinggi ketimbang bensol. Tetap punya kelemahan di torsi bawah yang berkurang. Bukan mekanik namanya ndak punya segudang 'ajian' buat menutupinya. Misal soal hitungan rasio sampai final gir yang katanyasikit dibikin ringan. Itu salah satu ajiannya.
Ajian laen mapping CDI Rextor ProDrag2 yang dimundurin rata-rata 1 derajat. Itu juga sebagai kompensasi dari bahan bakar pertamax yang memang lebih gampang disulut api busi ketimbang bensol. "Apalagi ada fitur launch control yang juga pegang peran mengatur rpm dan torsi di garis start. Joki jadi lebih gampang bawanya,” tambah mekanik juga gape bikin mesin roadrace itu.
Bukti laen ada pada Jupi 130 bikinan Danang C-Duck dari Jogja yang mampu 8,3 detik dan kampiun di drag Solo minggu lalu. Tuh Jupi juga 'mimik' pertamax. Memang di drag Solo lalu nggak pakai sensor satu titik macam di drag Jatim, namun dijadikan bukti mengasapi Jupi lainnya yang disiram bensol.
Mirip dengan Ari, Danang juga yakain kalo spek pertamax nggak kalah dengan bensol. "Selain itu pakai kompresi rendah mesin lebih awet dibandingin pakai bensol yang dikit-dikit minta di repair,” tambah Brengos sapaan akrabnya.

Senin, 17 Februari 2014

Drag Bike 2014 Jogja; Potter Vs Andoex, Skor 3-2 Ninja Tune Up!

Drag Bike 2014 Jogja; Potter Vs Andoex, Skor 3-2 Ninja Tune Up!
 
Acara makan bersama Nugroho alias Potter juru korek OTD Hasil Ayam dan Aan alias Andoex mekanik OP 27 Jogja adalah sisi lain dari kisah perseteruan mereka. Tentu di  Ninja Tune-up.  Mereka memang ‘bersahabat’, tapi tidak jika sudah di dalam lintasan 201 meter.  Teman tinggal teman, di dalam lintasan adalah musuh. Tapi d ibalap tak ada teman makan teman, hehe. Semua sportif.

Firasat bahwa Andoex bersedia traktir Potter, isyarat bahwa kelas para ‘raja’ di VSC Drag Nite Race 2014 di sirkuit Pantai Depok, Parangtristis, 16 Februari dini hari di Jogja  itu, Andoex akan ungguli Potter. Kedudukannya  3-2 dari 5 podium teratas. Taufiq Omponk di posisi pertama, Yudhistira Jebir ketiga dan Antonius Petruk kelima naik Ninja yang dikorek Aan yang asli Parakan, Temanggung, Jateng itu. 

Dari 16 starter di kelas ini, OP 27 mengeluarkan dua Ninja TU andalan mereka. Sedang OTD 3 sekaligus. Tak ingin mengecilkan Ninja Tune-up yang lain, tapi peta pertarungan memang tertuju pada dua mekanik tadi. Sekalipun keduanya sama-sama mengklaim yang terbaik adalah yang berhasil juara seri 1 Pertamina Enduro Drag Bike (PEDB) awal Maret mendatang.

   

Jalannya perlombaan sendiri di Jogja ini ketat, Fandi Pendol joki asal Semarang  sebagai kartu As si Potter memang sempat tak tergoyahkan. Ia agak lama di posisi pertama dengan 7.458 detik. Harapan Potter untuk mendominasi tiga podium teratas masih didukung ko Chodox Sulistyo. Aksi Chodox yang kembali berani ngegas ini disambut tepuk tangan penonton. Maklum saja, sebelum race ini, Chodox sempat insiden yang membuat dirinya harus mendapat perawatan tim medis. 

Tapi nyatanya, perih pada tangan lantaran luka, tak kuasa menggeser Pendol. Bahkan Chodox  terlempar dari 5 besar. Adalah Taufiq Omponk senjata pamungkas pasukan OP27, “Sebelumnya ada masalah dengan per kopling, beruntung mampu diatasi. Lihat saja selisih catatan waktu dengan Pendol, 0,2 detik. Pertanda power motor ini memang lagi on,” bangga Omponk yang siap mengupas korekan Ninja ini ditulisan modifikasi.


Sabtu, 16 November 2013

Drag Bike 2013 Pertamina Jelang Senayan; Bebek 4T 130 cc, Kompor Jupie OTD 7,9 detik!


Sekali lagi ditegaskan bahwa Final Pertamina Enduro Drag Bike (PEDB) di lintasan 201 meter, Senayan, Jakarta Selatan (16-17/11) ini bukan sekadar hadiah mobil Daihatsu Ayla.  Setiap kelas yang dilombakan menjanjikan pertarungan sampai habis, bis, bis. Bahkan gensi tim dipertaruhkan, kalau kalah ya tenang saja, balas tahun depan lagi.

Seperti di Bebek 4-Tak Tune-up 130 cc, Imam Ceper dari tim JFK Vincet ‘s Marcellio Racing Team (Jakarta) di posisi puncak klasemen. Ceper yang memang ceper itu pakai Honda Karisma spek ‘Thailand’. Dia bakal mendapat tantangan dari new comer yang  Minggu lalu bikin sensasi di Slawi, Jateng. 

Itu dia, Jupie OTD Jogja yang mencatat 7,9 detik.  “Hanya ingin  pembuktian, riset baru ini layak masuk papan atas belum? Kan semua ‘raja’ bakal beradu di Senayan,”kalem Potter dengan senyum khas wong Jogja. Wah seru nih! Apalagi joki papan atas seperti Eko Sulistyo, Muslih Wuri, Richo Boncel berhasil Potter gandeng. 


Dengan komposisi rasio gigi satu berat, namun gigi dua dibikin ringan, katanya membuat Jupie ini stabil. Maksudnya sejak start sampai finish kecepatannnya rata. Itu tujuan penggunaan komposisi rasio tersebut. Jangan lupa juga, pengapiannya disuntik CDI  Rextor Pro Drag. “Trek Senayan harus ditangani khusus. Di area startnya agak licin,” bilang Eko yang tetap Chodox yang akan memacu motor ini seolah sudah hapal tipikal Senayan.   

“Tak sekedar siapa yang menjadi pengumpul point terbanyak, tapi mampukah catatan waktu di kelas itu lebih tajam lagi. Catatan waktu terbaik kami saat ini memang masih 8.131 detik, saat event Trendy di Kebumen lalu,sebut Vincent bercerita Honda andalannya di kelas ini yang memakai karbu PWK 28, pengapian YZ dan kompoisis rasio blablabla.
 
Makin seru dengan hadirnya  Jupie QS (Quick Shifter) korekan Mosik Prionggo, “Rencana yang betot Dwi Batank, dialah penjamin bahwa teknologi QS tetap punya kelebihan dengan power mesin yang seimbang,” kata Onggo yang kerap bermain ‘gerilya’ di seputaran Jateng dan DIY. 
Iya, kadang hadir, kadang hilang, tiba-tiba kasih kabar akan hadir di Senayan.Hahaha..oke sampai di lintasan sesungguhnya. Eit, terus update kabar Final PEDB hanya di portal ini.

Drag Bike 2013 Final Pertamina Senayan (Jelang); Chodox Janji Pertajam Rekor FFA 6.776 Detik


Sangat sulit mematahkan catatan 6,776 detik di FFA drag bike. Jangankan dipecahkan, didekati saja sepanjang tahun ini nggak pernah kalee. Usai catatan itu dibikin, waktu FFA hanya bermain 6.9 sekian-sekian. Termasuk oleh pembuatnya Eko Chodox yang menunggang KTM SX250 milik Abirawa GM, motor yang sama menuliskan 6.776 detik.
 
Chodox mencetak rekor itu di lintasan Senayan, Jakarta, Selatan, Maret 2013. Tepatnya di seri pertama Pertamina Enduro Drag Bike Day Battle Championship 2013. Minggu ini atau 16 – 17 November, event yang sama kembali ke Senayan dalam seri pamungkasnya. Pertanyannya, dengan kondisi aspal, cuaca, dan suasana hampir sama, apakah Chodox bisa mempertajam?

"Jika aspalnya seperti  Maret dan cuaca terik, saya yakin bisa melewatinya," kata Chodox yang asli Semarang, Jawa Tengah. Apalagi timnya sedang mempersiapkan KTM tersebut di seri penutup. Suku cadang yang berhubungan dengan power kembali disegarkan oleh tim yang bermarkas di Pondok Gede, Jakarta Timur itu.

Misalnya ganti piston set, kruk-as dibalans ulang, lidah katup bulu diganti baru dan sebagainya. Soal korek-mengorek kayaknya nggak, karena KTM bermesin 2-tak ini sudah special engine. Paling hanya memainkan ketebalan paking pada blok silinder dan kepala silinder yang  berpengaruh pada karakter tarikannya.

Tak kalah penting, sasis KTM yang tahun ini telah dua kali patah, kembali dirapikan. Bagian rangka bawah dan sasis belakang, sekalian dibikin lebih kaku. "Mesin segar dan sasis yang lebih kokoh, momentum buka gasnya memang lebih meyakinkan. Feeling bisa tepat. Intinya akan berusaha ebih cepat. Sekali lagi, asal cuaca mendukung," tutup Chodox yang masih bertapa di kediamannya.

Drag Bike 2013 Pertamina Senayan (Jelang); Jupie Pele Memimpin Puluhan FU di Bebek 200


Boleh saja Suzuki FU mendominasi jumlah peserta Bebek Tune-Up  200 cc (Kelas 2). Dari total motor pernah ikut kelas ini, ada sekitar 25 FU dan hanya 3 unit Jupiter Z. Dengan unggulnya teknologi dasar FU lewat DOHC-nya, semestinya FU yang berpeluang memimpin poin.

Tapi masuk ke seri final Pertamina Enduro Drag Bike di Senayan, Jakarta Selatan, 16 – 17 November 2013 ini, justru Jupiter Z yang memimpin 9 poin. Pokoknya di bawahnya puluhan FU. Si pemimpin poin ini adalah Jupiter Z Pele yang dijoki Hendra Kecil. Seperti dalam tulisan modifikasi Jupie Pele, untuk mensetarakan dengan  DOHC dari FU, Pele seperti merancang ulang mesin Jupie. Kira-kira namanya saja Jupiter, tapi mesinnya sudah hasil karya sendiri, hehe.

Arief Sigit Wibowo alias Pele dari Pell’s Racing yang pasti pengorek Jupiter Z, sejak awal yakin bisa melawan. Ia mengakali Jupiter Z yang punya mesin ‘tidur’ dan masih SOHC dengan versi otaknya untuk  melawan mesin DOHC dengan mesin tegaknya. Peluagnya ada pada mesin yang bisa dikembangkan sampai 200 cc. Saya bermain konstruksi klep dan kem pada head-nya. Itu namanya riset,” kata Pele.

Yang membuat motor ini ikut melejit - paling tidak memimpin klasemen sampai ke Senayan - berkat kerjasama yang apik dengan jokii. Pele mengerti maunya Hendra yang kecil itu, si Kecil juga tahu racikan Pele. “Komunikasi yang penting, kurang lebih motor bisa diketahui,” jelas Hendra yang diuntit Tony Chupank yang menunggang Satria FU dari tim Lembu Speed Chonk’s.

Hendra mengumpul 99 poin dan  Chupank 79 poin. Posisi ke-3 sudah tak mungkin melampui keduanya yang diduduki Dwi Batank from Abakura Ditrajaya yang ngetop dengan FU-Solo. Dengan komposisi itu, pertarungan di FFA-nya bebek ini, pasti akan panas. “Seri penutup motor harus dipastikan sehat dan aman. Di Senayan lalu, saya yang juara pertama,” tegas Chupank seperti memberi ultimatum pada Hendra Kecil.